SEBUAH MISTERI
Mereka memanggilnya Gumi. Cukup itu
saja yang orang-orang tahu. G-U-M-I sisanya biar menjadi rahasia. Biar mereka
tidak terlalu cepat menilai seseorang. karena Gumi ingin memiliki teman,
melalui proses sakral seperti pergantian siang dan malam. Gumi lahir di bulan
September, bisa tanggal 24 bisa tanggal 25. Tapi itu tidak terlalu penting,
karena dia benci ucapan selamat ulang tahun. dan juga bulan September.
Dibalik kacamata bulat dan rambut
panjangnya, Gumi termasuk orang yang humoris. Tepatnya dia memilih menjadi
orang yang humoris. Dia tidak ingin sakit hati atas ejekan teman-temannya. Gumi
menganggap cemoohan mereka itu lelucon. Mereka tertawa, dia tertawa. Mereka
berdosa, dia tidak. Itu cukup adil baginya.
Mereka bilang Gumi berbeda dari yang
lain, tepatnya gila atau aneh. Namun sebaliknya, Gumi merasa bahwa orang-orang
begitu tidak menarik, memiliki pemikiran yang jamak. Monoton dan terlalu nyaman
dengan zonanya.
Hampir setiap waktu, Gumi habiskan
untuk me time. Memecahkan teka-teki
yang dia pikirkan. Walaupun semua yang dia pikirakan begitu random, namun entah
kenapa begitu meledak tak terbendung. Tak apalah, toh hal tersebut membuat Gumi
senang. Seperti saat mengamati perbincangan angin kepada hujan atau menyaksikan
serangan sinar mentari di waktu fajar. Dan semua Gumi lakukan di Ridland,
tempat persembunyian rahasianya yang terletak di belakang gedung sekolah. Tak
ada yang tahu tempat tersebut, kecuali Bani.
Satu hal yang tak bisa dilewatkan
oleh Gumi adalah menulis jurnal. Entah apapun yang ia alami, senang, sedih, semua
Gumi tumpahkan di dalam jurnalnya yang ia beri nama Mørd. Gumi berujar bahwa Mørd berarti tidur, artinya buku itu akan
menjadi saksi ketika dia sudah tidur untuk selamanya.
Senang rasanya bisa berbagi sepi
dengan Tuhan. Ada kenikmatan jika kita bisa berbagi keluh tanpa mengaduh. Tuhan
beruntung, tidak pernah kesepian. Karena kalau dia kesepian, tidak ada lagi
yang mau dekat dengannya. Dan
ternyata, sebenarnya semua manusia itu kesepian, yang berbeda hanyalah pilihan
mereka untuk berbagi atau menjalaninya seorang diri. Aku memilih tantangan. Aku
memilih petualangan. Aku tidak membagi sepiku, tapi aku mencari jawaban atas
keresahan di dalamnya. (Mørd, 8 November
2005)
Berbicara tentang asamara, Gumi
pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Entah sekali entah lebih. Gumi tidak
lupa, hanya saja dia bingung untuk mengelompokannya. Bagaimana perasaan ini
disebut sayang, kagum, terobsesi atau mencintai. Bagi Gumi semuanya itu sama
saja, karena semuanya bisa menjadi benci.
Cita-cita Gumi adalah menjadi pelukis. Dia sangat tertarik dengan goresan warna yang menyapu kanvas
dengan indahnya. Seakan-akan melengkapi hidupnya yang terlalu monokromatik. Gumi
bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyelami sebuah karya lukisan. Dalam
otaknya seperti memproyeksikan lukisan tersebut menjadi sebuah cerita. Gumi
paling menyukai lukisan abstrak. kerena dapat membebaskan ide-ide gilanya dari
penjara pikiran realitas. Atau menurut Gumi, itu mewakili cerita hidupnya.
Awal ketertarikan Gumi terhadap seni
lukis sebenarnya dimulai ketika Gumi berusia 5 tahun. Tepatnya menjelang
kematian sang ibu. Sebelum meninggal, sang ibu sempat memberikan kuas yang
biasa dia pakai untuk melukis. hidupkan
mimpimu. Itu adalah kalimat terkahir sebelum sang ibu meninggalkan Gumi untuk
selamanya. Gumi terus mengingat ucapan terakhir sang ibu. Yang belum sempat ia
tanyakan apa maksudnya.
Hingga tumbuh dewasa, Gumi belum
pernah menggunakan kuas tersebut sama sekali. Ia lebih memilih menyimpannya di
kamar, di samping foto sang ibu. Hidupkan
mimpimu terus menggaung dalam pikiran Gumi acap kali ia melihat foto sang ibu.
Bani adalah teman Gumi yang paling
dekat. Dia tetangga sekaligus teman Gumi dari kecil. Yang Gumi suka dari Bani
adalah bahwa bani cerewet dan hobi bercerita atau lebih tepat dikategorikan
mendongeng. Dibalik sifat pendiam Gumi, dia merupakan seorang pendengar yang
baik. Dan Gumi merupakan orang dengan jam terbang paling banyak untuk menjadi
pendengar setia cerita-cerita Bani. Walaupun apa yang Bani ceritakan merupakan 90% fiksi, dan 10% mustahil. Tapi
itu yang membuat Gumi tertarik. Dia seakan dapat merasakan bahwa apa yang Bani
ceritakan merupakan sesuatu yang nyata.
Berbeda halnya bagi Bani, sebenarnya
tidak ada yang Bani suka dari Gumi, kecuali rasa kasihan melihat Gumi yang
terlalu sering sendiri. Tapi itu merupaka penilaian ketika Bani kecil, beranjak
remaja penilaian Bani telah berubah. Gum,
jangan jadi normal ya. Nanti kamu ga istimewa lagi. Itu adalah pujian
pertama yang Bani sampaikan ketika masih kecil untuk menyemangati Gumi setelah
terus-menerus di ejek teman-temannya yang menggapnya aneh.
Bani pernah bilang, kalau dimasa
depan itu kita bakal ketemu lagi sama yang namanya dinnosaurus, godzila atau penyihir
Stinger.
“Masa depan kan ga ada yang tahu,
masa kita ga boleh ngarang cerita sendiri. Ga asik ah kalau di masa depan
ketemunya robot atau alien. Soalnya nanti kamu keliatan normal, ga seru!”
Ujarnya dengan ekspresi seperti anak kecil
“Kalau menurut kamu masa depan itu
gimana Gum?” Tanya Bani dengan penuh rasa penasaran.
“Ceritanya sama aja kaya hari ini.
Cuma pemerannya ganti.” Jawab Gumi santai sambil menatap mata Bani dalam-dalam.
“Ko gak asik sih Gum jawabannya? Cupu
ah cerita kamu!.” Jawab Bani sambil memanyunkan bibirnya.
Hari
ini dan masa depan tidak ada yang berbeda. Yang paling penting adalah, apakah
aku dan kamu masih ada untuk bercerita tentang hari kemarin? Semua akan beurbah
membosankan jika aku tidak melihatmu
lagi. Biarlah masa depan tetap seperti ini, asal kamu menemaniku. karena kamu
yang membuatnya istimewa. (Mørd, 25 November 2005)
Bani merupakan gadis berambut
panjang kecoklatan dengan kacamata bulat, sama halnya dengan Gumi. Bani
memiliki nama keluarga Bertine. Dia merupakan seorang gadis campuran Norwegia Perancis.
Darah Perancis merupakan warisan dari sang ibu. Bani merupakan kompetitor ulung
Gumi dalam perebutan juara kelas. Terkadang
Bani tidak bisa terima jika Gumi mendapatkan juara kelas. Karena menurut Bani,
Gumi merupakan seorang pemalas. Hanya saja dia beruntung bahwa apa yang dia hafal
selalu muncul dalam soal ujian. Alibi tersebut sebenarnya bentuk kecemburuan
Bani terhadap kecerdasan Gumi.
Di sekolah, Bani merupakan siswi populer.
Kepiawaiannya bernyanyi cukup membawanya sebagai ketua paduan seuara sekolah.
Dan otomatis membawanya sebagi figur idola di sekolah. Kedekatannya dengan
Gumi, membuat semua mata begitu sinis menatap Gumi. Siap atau tidak Gumi harus
menerima kenyataan bahwa dia adalah public
enemy di sekolah.
Goresan jingga pada cakrawala
perlahan pudar bergantikan pekatnya hitam yang menghiasi langit. Semilir angin
yang lembut kini berpadu gemuruh hujan yang seakan mengoyak kesepian
orang-orang yang terjaga malam itu. Tampak Gumi masih berkawan dengan peralatan
lukisnya. Diantara redupnya penerangan kompleks, kamar Gumi begitu benderang, seakan
masih menunjukan kehidupan. Sudah sedari sore Gumi tak henti menggoreskan
kuasnya di atas kanvas. Gumi melukis seorang ibu yang sedang memeluk bayi. Dengan
latar suasana pantai yang dihiasi gemerlap bintang. Hujan dimalam itu telah
mengantarkan kerinduan Gumi akan kenangan indah besama sang ibu.
Dimanapun ibu berada, aku kangen. Aku
masih dapat merasakan pelukan ibu.. Datang kemimpiku malam ini bu. Aku punya
cerita rahasia. (Mørd, 8 Desember 2005)
Jam sudah menunjukan pukul 1 dini
hari. Gumi sudah membereskan semua peralatan lukisnya. Kini waktunya untuk
berjumpa sang ibu, dalam mimpi. Tiba-tiba handphone Gumi bergetar, ada sms dari
Bani. Hey, Alien pluto besok kita ke
Ridland yu! Gawat! Aku punya feeling kalau penyihir Stinger mensabotase markas
kita. Aku tunggu jam 2 siang! Bon dodo!
Gumi senyum-senyum sendiri membaca
sms dari Bani. dengan singkat dia
membalas sms dari Bani Kamu mimpi ya? Tak
menunggu lama Gumipun mendapat balasan dari Bani, Aku masih bangun, dari tadi nungguin alien ngelukis. Asik bener kayanya
kamu! pokonya besok jam 2 ya! Jangan lupa bawa makanan buat aku :p Banipun
tertidur walaupun tak mendapat balasan dari Gumi.
“Gumi, apa yang kamu lakukakan itu
sangat memalukan!” Guru Gumi memarahinya dengan nada yang sangat tinggi.
Hampir satu jam Gumi diceramahi,
dihakimi dan disudutkan oleh Gurunya. Hari ini memang tidak berpihak kepada
Gumi. Dia harus menghadap gurunya karena kedapatan memukul teman sekelasnya.
Hari itu Gumi tidak bisa lagi membendung emosinya mendengar Arthur mencela dan
berkata yang tidak-tidak tentang ibunya. Tak ingin buang waktu, Gumi langsung
memberikan pukulan ke arah wajah Arthur agar mulutnya berhenti mencela. Dan
hasilnya Arthur pingsan dengan kondisi wajah berdarah.
“Apa perlu kamu memukulnya? Sampai dia
berdarah seperti itu” Lanjut sang Guru mengahakimi Gumi yang sedari tadi tak
diberi kesempatan menjawab.
“Apa yang akan bapak lakukan jika
ada seseorang yang menghina orang tua bapak?!” Dan emosi Gumi tak bisa
terelakan lagi. Dengan geram dia memberikan perlawanan kepada sang guru.
“Lancang kamu! Sekarang kamu saya
skors satu minggu! Keluar dari ruangan saya!” Ucap sang guru menutup penghakimannya.
“Masa bodoh!” Jawab Gumi sambil
membanting pintu dan keluar meninggalkan ruangan guru.
Hari
ini kebenaran dikalahkan kekuasaan. Cukup hari ini saja. Besok dan seterusnya
kebenaran akan menjadi penguasa. Menjaga nama baik keluarga artinya berbakti.
Sebuah bakti menunjukan moral. Hanya mereka yang bermoral yang berhasil dididik. Sekiranya aku di skors, berarti aku telah belajar banyak hari ini. (Mørd,
8 Desember 2005)
Waktu masih menunjukan pukul 12
siang. 1 jam lagi bel bubaran sekolah baru berbunyi, namun Gumi sudah bergegas
meninggalkan sekolahnya. Tujuannya adalah Ridland, dia menepati permintaan
Bani. Dan betapa dikejutkannya Gumi begitu tiba di Ridland. Kursi, lukisan dan
barang-barang disana telah diacak-acak. Gumi tampak panik, dia mencari nama
Bani Bertine di kontak handphonenya, Cepet
ke Ridland. Darurat! Namun sms yang sudah Gumi ketik urung dikirm. Dia
tidak ingin mengganggu Bani yang sedang belajar. Sambil menunggu Bani datang,
Gumi merapikan kembali barang-barang yang sudah diacak-acak tersebut. Dia
membersihkan pecahan lampu yang dengan sengaja dipecahkan oleh orang tak
bertanggung jawab. beruntung disana masih tersimpan lilin. Dengan penerangan
seadanya Gumi terus merapikan semua barang ke posisinya semula sambil mengecek
apakah ada barang yang hilang atau tidak.
Terkage-kaget Gumi melihat sebuah
buku di hadapannya. Jantung Gumi seakan berhenti berdetak. Sambil memjamkan
mata ia menarik napas panjang. kemudian ia mengambil buku tersebut. Lama ia
memejamkan matanya, berusaha mencari kekuatan untuk melihat apa yang ada di
hadapannya. Itu adalah sebuah diary yang sudah sangat usam, dengan judul “The
Secret Life” belong to Susan. Ketika
ia buka halaman pertama diary tersebut terdapat sebuah foto ibunya ketika masih
muda. Ia berfoto bersama seorang pria yang tidak Gumi kenal.
Napas Gumi menderu tak beraturan. Ia
masih belum mengerti dan tak bisa menduga apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dahi Gumi mengerut mengiringi halaman demi halaman yang ia buka. Gumi mendapati
diary sang ibu yang tertulis tak berurutan dan terdapat catatan-catatan yang
hilang. Begitu berbeda halnya dengan buku jurnal milik Gumi. Atau mungkin sengaja halaman-halaman yang
tidak ada tersebut memang sengaja ditiadakan. Ucap Gumi dalam hati. Semua
terlalu rumit untuk Gumi pecahkan saat itu juga. Ia memejamkan matanya,
membayangkan wajah sang ibu. Berharap ada petunjuk yang bisa ia dapati. Namun
hasilnya nihil.
“Bonjour….” Sapa Bani ketika memasuki
Ridland dengan ekpresi penuh semangat.
“Eh ada apa nih Gum, ko berantakan
banget. Kamu kenapa?” Tanya Bani dengan penuh rasa penasaran sambil merangkul
tubuh Gumi.
Namun tak ada satu katapun keluar
dari mulut Gumi. Tak ada penjelasan untuk rasa penasaran Bani. Namun Bani tahu
percis ekspresi apa yang ditunjukan dalam raut wajah Gumi. Sediam apapun Gumi,
Bani tahu percis bagaimana cara membaca ekspresi wajah Gumi.
“Cerita dong Gum, kamu abis ngeliat
setan ya?” Tanya Bani berusaha memecahkan kehingan yang ada.
“Ini Ban…” Gumi memberikan buku yang
dari tadi ia pegang sampai berhasil membuatnya terkaget-kaget.
“Oh, jadi ini yang membuat kamu ketakutakan
kaya habis ketemu hantu? Alien takut juga ya sama hantu?” Bani tertawa kecil
berusaha mencairkan suasana, tapi apa yang ia perbuat tak bedampak apapun.
“Eh Gum, ini diary punya ibu kamu
ya?” Nada Bani mendadak berubah serius.
Gumi hanya mengangkat bahunya sambil
menundukan kepala. Rasanya tubuh dan pikiran Gumi saat itu sedang terpisah,
berada di waktu dan dimensi yang
berbeda.
“Siapa yang melakukan ini, dan untuk
apa?” Tiba-tiba Gumi berkata dengan ekpresi penuh kebingungan.
“Aku juga ga tau ini ulah siapa Gum,
tapi aku yakin pasti ini semua ada tujuan tertentu.” Bani berusah menenangkan
Gumi sambil membelai rambut Gumi.
“Gum, mungkin ga ya, kalau feeling
aku semalem bener?” Bisik Bani dengan penuh hati-hati.
Apa yang dibisikan oleh Bani
berhasil mendapatkan perhatian pernuh dari Gumi. “Maksud kamu apa?” Jawab Gumi
sambil menatap wajah Bani dengan tatapan yang tajam.
Suasana hening sesaat, Bani tak
langsung menjawab pertanyaan Gumi. Ia berusaha mencerna apa yang akan ia
sampaikan. Kali ini Bani takut salah menjawab dan membuat suasana semakin kacau. “Iya Gum… jangan-jangan kemarin malam penyihir Stinger
datang kesini.”
Gumi langsung berdiri seketika dan
membuang pandangan dari tatapan Bani. “Aku mohon Ban, untuk kali ini saja.
Hentikan fantasimu!” Gumi berkata dengan suara penuh penekanan dan terdengar
berbeda dari gaya bicara Gumi yang lembut.
#BERSAMBUNG.
. .