Sabtu, 04 Juli 2015

Gumi Sang Pelukis Fantasi : #1. Sebuah Misteri

SEBUAH MISTERI


            Mereka memanggilnya Gumi. Cukup itu saja yang orang-orang tahu. G-U-M-I sisanya biar menjadi rahasia. Biar mereka tidak terlalu cepat menilai seseorang. karena Gumi ingin memiliki teman, melalui proses sakral seperti pergantian siang dan malam. Gumi lahir di bulan September, bisa tanggal 24 bisa tanggal 25. Tapi itu tidak terlalu penting, karena dia benci ucapan selamat ulang tahun. dan juga bulan September.
            Dibalik kacamata bulat dan rambut panjangnya, Gumi termasuk orang yang humoris. Tepatnya dia memilih menjadi orang yang humoris. Dia tidak ingin sakit hati atas ejekan teman-temannya. Gumi menganggap cemoohan mereka itu lelucon. Mereka tertawa, dia tertawa. Mereka berdosa, dia tidak. Itu cukup adil baginya.
            Mereka bilang Gumi berbeda dari yang lain, tepatnya gila atau aneh. Namun sebaliknya, Gumi merasa bahwa orang-orang begitu tidak menarik, memiliki pemikiran yang jamak. Monoton dan terlalu nyaman dengan zonanya.
            Hampir setiap waktu, Gumi habiskan untuk me time. Memecahkan teka-teki yang dia pikirkan. Walaupun semua yang dia pikirakan begitu random, namun entah kenapa begitu meledak tak terbendung. Tak apalah, toh hal tersebut membuat Gumi senang. Seperti saat mengamati perbincangan angin kepada hujan atau menyaksikan serangan sinar mentari di waktu fajar. Dan semua Gumi lakukan di Ridland, tempat persembunyian rahasianya yang terletak di belakang gedung sekolah. Tak ada yang tahu tempat tersebut, kecuali Bani.
            Satu hal yang tak bisa dilewatkan oleh Gumi adalah menulis jurnal. Entah apapun yang ia alami, senang, sedih, semua Gumi tumpahkan di dalam jurnalnya yang ia beri nama Mørd. Gumi berujar bahwa Mørd berarti tidur, artinya buku itu akan menjadi saksi ketika dia sudah tidur untuk selamanya.
Senang rasanya bisa berbagi sepi dengan Tuhan. Ada kenikmatan jika kita bisa berbagi keluh tanpa mengaduh. Tuhan beruntung, tidak pernah kesepian. Karena kalau dia kesepian, tidak ada lagi yang mau dekat dengannya. Dan ternyata, sebenarnya semua manusia itu kesepian, yang berbeda hanyalah pilihan mereka untuk berbagi atau menjalaninya seorang diri. Aku memilih tantangan. Aku memilih petualangan. Aku tidak membagi sepiku, tapi aku mencari jawaban atas keresahan di dalamnya.  (Mørd, 8 November 2005)
            Berbicara tentang asamara, Gumi pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Entah sekali entah lebih. Gumi tidak lupa, hanya saja dia bingung untuk mengelompokannya. Bagaimana perasaan ini disebut sayang, kagum, terobsesi atau mencintai. Bagi Gumi semuanya itu sama saja, karena semuanya bisa menjadi benci.
            Cita-cita Gumi adalah menjadi pelukis. Dia sangat tertarik dengan goresan warna yang menyapu kanvas dengan indahnya. Seakan-akan melengkapi hidupnya yang terlalu monokromatik. Gumi bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyelami sebuah karya lukisan. Dalam otaknya seperti memproyeksikan lukisan tersebut menjadi sebuah cerita. Gumi paling menyukai lukisan abstrak. kerena dapat membebaskan ide-ide gilanya dari penjara pikiran realitas. Atau menurut Gumi, itu mewakili cerita hidupnya.
            Awal ketertarikan Gumi terhadap seni lukis sebenarnya dimulai ketika Gumi berusia 5 tahun. Tepatnya menjelang kematian sang ibu. Sebelum meninggal, sang ibu sempat memberikan kuas yang biasa dia pakai untuk melukis. hidupkan mimpimu. Itu adalah kalimat terkahir sebelum sang ibu meninggalkan Gumi untuk selamanya. Gumi terus mengingat ucapan terakhir sang ibu. Yang belum sempat ia tanyakan apa maksudnya.
            Hingga tumbuh dewasa, Gumi belum pernah menggunakan kuas tersebut sama sekali. Ia lebih memilih menyimpannya di kamar, di samping foto sang ibu. Hidupkan mimpimu terus menggaung dalam pikiran Gumi acap kali ia melihat foto sang ibu.

*       
            Bani adalah teman  Gumi yang paling dekat. Dia tetangga sekaligus teman Gumi dari kecil. Yang Gumi suka dari Bani adalah bahwa bani cerewet dan hobi bercerita atau lebih tepat dikategorikan mendongeng. Dibalik sifat pendiam Gumi, dia merupakan seorang pendengar yang baik. Dan Gumi merupakan orang dengan jam terbang paling banyak untuk menjadi pendengar setia cerita-cerita Bani. Walaupun apa yang Bani ceritakan  merupakan 90% fiksi, dan 10% mustahil. Tapi itu yang membuat Gumi tertarik. Dia seakan dapat merasakan bahwa apa yang Bani ceritakan merupakan sesuatu yang nyata.
            Berbeda halnya bagi Bani, sebenarnya tidak ada yang Bani suka dari Gumi, kecuali rasa kasihan melihat Gumi yang terlalu sering sendiri. Tapi itu merupaka penilaian ketika Bani kecil, beranjak remaja penilaian Bani telah berubah. Gum, jangan jadi normal ya. Nanti kamu ga istimewa lagi. Itu adalah pujian pertama yang Bani sampaikan ketika masih kecil untuk menyemangati Gumi setelah terus-menerus di ejek teman-temannya yang menggapnya aneh.
            Bani pernah bilang, kalau dimasa depan itu kita bakal ketemu lagi sama yang namanya dinnosaurus, godzila atau penyihir Stinger.
            “Masa depan kan ga ada yang tahu, masa kita ga boleh ngarang cerita sendiri. Ga asik ah kalau di masa depan ketemunya robot atau alien. Soalnya nanti kamu keliatan normal, ga seru!” Ujarnya dengan ekspresi seperti anak kecil
            “Kalau menurut kamu masa depan itu gimana Gum?” Tanya Bani dengan penuh rasa penasaran.
            “Ceritanya sama aja kaya hari ini. Cuma pemerannya ganti.” Jawab Gumi santai sambil menatap mata Bani dalam-dalam.
            “Ko gak asik sih Gum jawabannya? Cupu ah cerita kamu!.” Jawab Bani sambil memanyunkan bibirnya.
            Hari ini dan masa depan tidak ada yang berbeda. Yang paling penting adalah, apakah aku dan kamu masih ada untuk bercerita tentang hari kemarin? Semua akan beurbah  membosankan jika aku tidak melihatmu lagi. Biarlah masa depan tetap seperti ini, asal kamu menemaniku. karena kamu yang membuatnya istimewa. (Mørd, 25 November 2005)
            Bani merupakan gadis berambut panjang kecoklatan dengan kacamata bulat, sama halnya dengan Gumi. Bani memiliki nama keluarga Bertine. Dia merupakan seorang gadis campuran Norwegia Perancis. Darah Perancis merupakan warisan dari sang ibu. Bani merupakan kompetitor ulung Gumi dalam perebutan juara kelas.  Terkadang Bani tidak bisa terima jika Gumi mendapatkan juara kelas. Karena menurut Bani, Gumi merupakan seorang pemalas. Hanya saja dia beruntung bahwa apa yang dia hafal selalu muncul dalam soal ujian. Alibi tersebut sebenarnya bentuk kecemburuan Bani terhadap kecerdasan Gumi.
            Di sekolah, Bani merupakan siswi populer. Kepiawaiannya bernyanyi cukup membawanya sebagai ketua paduan seuara sekolah. Dan otomatis membawanya sebagi figur idola di sekolah. Kedekatannya dengan Gumi, membuat semua mata begitu sinis menatap Gumi. Siap atau tidak Gumi harus menerima kenyataan bahwa dia adalah public enemy di sekolah.

              
*       
            Goresan jingga pada cakrawala perlahan pudar bergantikan pekatnya hitam yang menghiasi langit. Semilir angin yang lembut kini berpadu gemuruh hujan yang seakan mengoyak kesepian orang-orang yang terjaga malam itu. Tampak Gumi masih berkawan dengan peralatan lukisnya. Diantara redupnya penerangan kompleks, kamar Gumi begitu benderang, seakan masih menunjukan kehidupan. Sudah sedari sore Gumi tak henti menggoreskan kuasnya di atas kanvas. Gumi melukis seorang ibu yang sedang memeluk bayi. Dengan latar suasana pantai yang dihiasi gemerlap bintang. Hujan dimalam itu telah mengantarkan kerinduan Gumi akan kenangan indah besama sang ibu.
Dimanapun ibu berada, aku kangen. Aku masih dapat merasakan pelukan ibu.. Datang kemimpiku malam ini bu. Aku punya cerita rahasia. (Mørd, 8 Desember 2005)
            Jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Gumi sudah membereskan semua peralatan lukisnya. Kini waktunya untuk berjumpa sang ibu, dalam mimpi. Tiba-tiba handphone Gumi bergetar, ada sms dari Bani. Hey, Alien pluto besok kita ke Ridland yu! Gawat! Aku punya feeling kalau penyihir Stinger mensabotase markas kita. Aku tunggu jam 2 siang! Bon dodo!
            Gumi senyum-senyum sendiri membaca sms dari Bani. dengan singkat dia membalas sms dari Bani Kamu mimpi ya? Tak menunggu lama Gumipun mendapat balasan dari Bani, Aku masih bangun, dari tadi nungguin alien ngelukis. Asik bener kayanya kamu! pokonya besok jam 2 ya! Jangan lupa bawa makanan buat aku :p Banipun tertidur walaupun tak mendapat balasan dari Gumi.


*       
            “Gumi, apa yang kamu lakukakan itu sangat memalukan!” Guru Gumi memarahinya dengan nada yang sangat tinggi.
            Hampir satu jam Gumi diceramahi, dihakimi dan disudutkan oleh Gurunya. Hari ini memang tidak berpihak kepada Gumi. Dia harus menghadap gurunya karena kedapatan memukul teman sekelasnya. Hari itu Gumi tidak bisa lagi membendung emosinya mendengar Arthur mencela dan berkata yang tidak-tidak tentang ibunya. Tak ingin buang waktu, Gumi langsung memberikan pukulan ke arah wajah Arthur agar mulutnya berhenti mencela. Dan hasilnya Arthur pingsan dengan kondisi wajah berdarah.
            “Apa perlu kamu memukulnya? Sampai dia berdarah seperti itu” Lanjut sang Guru mengahakimi Gumi yang sedari tadi tak diberi kesempatan menjawab.
            “Apa yang akan bapak lakukan jika ada seseorang yang menghina orang tua bapak?!” Dan emosi Gumi tak bisa terelakan lagi. Dengan geram dia memberikan perlawanan kepada sang guru.
            “Lancang kamu! Sekarang kamu saya skors satu minggu! Keluar dari ruangan saya!”  Ucap sang guru menutup penghakimannya.
            “Masa bodoh!” Jawab Gumi sambil membanting pintu dan keluar meninggalkan ruangan guru.
            Hari ini kebenaran dikalahkan kekuasaan. Cukup hari ini saja. Besok dan seterusnya kebenaran akan menjadi penguasa. Menjaga nama baik keluarga artinya berbakti. Sebuah bakti menunjukan moral. Hanya mereka yang bermoral yang berhasil dididik. Sekiranya aku di skors, berarti aku telah belajar banyak hari ini. (Mørd, 8 Desember 2005)
            Waktu masih menunjukan pukul 12 siang. 1 jam lagi bel bubaran sekolah baru berbunyi, namun Gumi sudah bergegas meninggalkan sekolahnya. Tujuannya adalah Ridland, dia menepati permintaan Bani. Dan betapa dikejutkannya Gumi begitu tiba di Ridland. Kursi, lukisan dan barang-barang disana telah diacak-acak. Gumi tampak panik, dia mencari nama Bani Bertine di kontak handphonenya, Cepet ke Ridland. Darurat! Namun sms yang sudah Gumi ketik urung dikirm. Dia tidak ingin mengganggu Bani yang sedang belajar. Sambil menunggu Bani datang, Gumi merapikan kembali barang-barang yang sudah diacak-acak tersebut. Dia membersihkan pecahan lampu yang dengan sengaja dipecahkan oleh orang tak bertanggung jawab. beruntung disana masih tersimpan lilin. Dengan penerangan seadanya Gumi terus merapikan semua barang ke posisinya semula sambil mengecek apakah ada barang yang hilang atau tidak.
            Terkage-kaget Gumi melihat sebuah buku di hadapannya. Jantung Gumi seakan berhenti berdetak. Sambil memjamkan mata ia menarik napas panjang. kemudian ia mengambil buku tersebut. Lama ia memejamkan matanya, berusaha mencari kekuatan untuk melihat apa yang ada di hadapannya. Itu adalah sebuah diary yang sudah sangat usam, dengan judul “The Secret Life” belong to Susan. Ketika ia buka halaman pertama diary tersebut terdapat sebuah foto ibunya ketika masih muda. Ia berfoto bersama seorang pria yang tidak Gumi kenal.
            Napas Gumi menderu tak beraturan. Ia masih belum mengerti dan tak bisa menduga apa yang sebenarnya telah terjadi. Dahi Gumi mengerut mengiringi halaman demi halaman yang ia buka. Gumi mendapati diary sang ibu yang tertulis tak berurutan dan terdapat catatan-catatan yang hilang. Begitu berbeda halnya dengan buku jurnal milik Gumi. Atau mungkin sengaja halaman-halaman yang tidak ada tersebut memang sengaja ditiadakan. Ucap Gumi dalam hati. Semua terlalu rumit untuk Gumi pecahkan saat itu juga. Ia memejamkan matanya, membayangkan wajah sang ibu. Berharap ada petunjuk yang bisa ia dapati. Namun hasilnya nihil.
           
            “Bonjour….” Sapa Bani ketika memasuki Ridland dengan ekpresi penuh semangat.
            “Eh ada apa nih Gum, ko berantakan banget. Kamu kenapa?” Tanya Bani dengan penuh rasa penasaran sambil merangkul tubuh Gumi.
            Namun tak ada satu katapun keluar dari mulut Gumi. Tak ada penjelasan untuk rasa penasaran Bani. Namun Bani tahu percis ekspresi apa yang ditunjukan dalam raut wajah Gumi. Sediam apapun Gumi, Bani tahu percis bagaimana cara membaca ekspresi wajah Gumi.
            “Cerita dong Gum, kamu abis ngeliat setan ya?” Tanya Bani berusaha memecahkan kehingan yang ada.
            “Ini Ban…” Gumi memberikan buku yang dari tadi ia pegang sampai berhasil membuatnya terkaget-kaget.
            “Oh, jadi ini yang membuat kamu ketakutakan kaya habis ketemu hantu? Alien takut juga ya sama hantu?” Bani tertawa kecil berusaha mencairkan suasana, tapi apa yang ia perbuat tak bedampak apapun.
            “Eh Gum, ini diary punya ibu kamu ya?” Nada Bani mendadak berubah serius.
            Gumi hanya mengangkat bahunya sambil menundukan kepala. Rasanya tubuh dan pikiran Gumi saat itu sedang terpisah, berada di waktu  dan dimensi yang berbeda.
            “Siapa yang melakukan ini, dan untuk apa?” Tiba-tiba Gumi berkata dengan ekpresi penuh kebingungan.
            “Aku juga ga tau ini ulah siapa Gum, tapi aku yakin pasti ini semua ada tujuan tertentu.” Bani berusah menenangkan Gumi sambil membelai rambut Gumi.
            “Gum, mungkin ga ya, kalau feeling aku semalem bener?” Bisik Bani dengan penuh hati-hati.
            Apa yang dibisikan oleh Bani berhasil mendapatkan perhatian pernuh dari Gumi. “Maksud kamu apa?” Jawab Gumi sambil menatap wajah Bani dengan tatapan yang tajam.
            Suasana hening sesaat, Bani tak langsung menjawab pertanyaan Gumi. Ia berusaha mencerna apa yang akan ia sampaikan. Kali ini Bani takut salah menjawab dan membuat suasana  semakin kacau. “Iya Gum…  jangan-jangan kemarin malam penyihir Stinger datang kesini.”
            Gumi langsung berdiri seketika dan membuang pandangan dari tatapan Bani. “Aku mohon Ban, untuk kali ini saja. Hentikan fantasimu!” Gumi berkata dengan suara penuh penekanan dan terdengar berbeda dari gaya bicara Gumi yang lembut.
*       
#BERSAMBUNG. . .