Sabtu, 17 Desember 2016

Rendez-Vous


        Betapa besar pengaruh globalisasi dalam menciptakan eksistensi di dunia maya. Hal tersebut berdampak dalam perjalanan cinta Jeane. Dalam eksistensinya di dunia nyata, ia bertemu pujaan hatinya di dunia maya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan menjalin sebuah hubungan jarak jauh.

Perjalanan udara yang begitu melelahkan. Hampir tiga jam Jeane membelah cakrawala, meninggalkan kota kelahiran yang sangat ia cintai, Amsterdam. Sepanjang perjalanan pikiran dan perasaannya tak pernah menyatu. Tak menemukan titik temu. Secangkir kopi yang menemainya  membuat adrenalinnya kian meningkat, membuat jantungnya berdebar tak menentu. Tubuhnya bergetar. Ia berharap dapat bertemu cinta sejatinya. Cinta yang begitu nyata dalam setiap mimipi-mimpinya.

Jam Bandara Charles de Gaulle menunjukan pukul dua siang. Jeane berjalan gontai menuju mesin penjual minuman otomatis. Mengusir dahaga yang menggerogoti tenggorokannya sedari tadi. Kemarau kali ini adalah kemarau terpanas yang pernah ia lalui. Matahari seakan ingin membakar seisi Bumi hari itu. T-shirt Nirvana yang berukuran lebih besar dari tubunya berpadu dengan celana jeans rombeng membalut kulit putih mulus dan tubuh Jeane yang amat denok. Membuat lirikan semua orang disekkitar tertuju padanya. Iya begitu mencolok di tengah hiruk pikuk keramaian Bandara Charles de Gaulle.
          
          Jeane perlahan beranjak menuju bar yang terletak tak jauh dari pintu keluar. Ia begitu iri melihat orang-orang yang sedang menunggu dan menyambut kedatangan orang-orang terkasih. Pelukan dan ciuman yang ia lihat disana telah membakar rasa rindu yang telah dalam ia pendam. Jeane berharap Pierre segera tiba untuk menjeputnya. Tiba-tiba seseorang menyapanya dan membuyarkan lamunannya.
            
          “Bienvenue au bar de Charles de Gaulle. Permisi madame, apakah ada yang dapat saya bantu?’’ 
            
“Pierre !!!” Seru Jeane yang berharap seseorang yang menepuk pundaknya adalah Pierre. 

’Maaf, saya kira kamu adalah orang yang sedang saya tunggu." Ternyata yang itu hanya seorang pelayan yang hendak memberikan daftar menu makanan.

‘’Saya  pesan kopi, biskuit dan crepes ‘’

“Baiklah, saya ulangi pesanan anda madame, kopi, biscuit dan crepes. Apa ada tambahan lainnya?” Tanya pelayan terseut untuk memastikan pesanan Jeane.

“tidak, itu saja cukup” Jawab Jeane sambil menyalakan cerutu yang ia bawa dari Amsterdame.

“ Mohon tunggu sebentar madame, pesanan akan segera tiba. Merci Beacoup.”

“De rien.” Jeane mengakhiri percakapan dan pelayan itu pun meninggalkan meja Jeane.

***
Jean melihat jam tanganya yang telah disamakan dengan waktu di Paris. Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul empat. Hampir dua jam Jeane berada di Bar itu. Semua pesanan habis dilahap olehnya. Tanpa terkecuali. Ditambah delapan cerutu yang manemani santapannya siang itu. Bosan kini telah hinggap dalam benak Jeane. Ia terus memandangi telefon genggamnya. Menunggu kabar dari orang yang ia idam-idamkan, Pierre. Ia terus berharap pada cintanya itu. Jeane meninggalkan bar itu. Kemudian ia memasang earphone. Lagu The Rolling Stones menemani langkahnya yang tak memiliki tujuan pasti.

Dengan bulat hati, Jeane meniggalkan Bandara Charles de Gaulle. Langkahnya tertuju pada place de la concorde. Sebuah alun-alun terluas yang ada di Kota Paris. Ia mencari bangku untuk duduk sejenak. Sambil mengagumi keindahan patung dan gemercik air mancur yang ada di taman itu. Perlahan ia berbaring di bangku taman itu. Memandang langit luas, seperti cintanya yang tak terbatas kepada Pierre. Begitu hening suasana di alun-alun itu. Meredakan kekesalan hatinya untuk sementara waktu. Tiba-tiba seorang anak kecil datang menghampirinya menyanyikan lagu soul man, diiringi permainan gitar yang memukai. Jeane pun melepaskan earphone dan lebih memilih menikmati konser musisi jalanan itu. Terlebih lagu yang dibawakannya merupakan lagu bahasa Perancis yang pertama kali ia hafal. Ketika musisi jalanan itu menyudahi konsernya, Jeane lekas memberinya sebungkus cerutu Belanda. Kemudian ia meniggalkan taman tersebut.

 Ia terus berjalan menyusuri jalanan di kota Paris. Langkahnya begitu penuh dengan keyakinan. Tak ada sama sekali rasa takut dalam setiap langkahnya, walau ini merupakan kali pertama Jeane berada di Paris. Ketidak tahuan Jeane membawanya ke sebuah pusat pertokoan di Paris, Champe Elysee. Sepanjang jalan terdapat butik dengan merek ternama di dunia. Bar dan Restoran begitu penuh terisi pasangan yang sedang di mabuk cinta. Rasa iri kembali menghinggapi dirinya. Hanya Pierre yang mampu mengobati iri di hati Jeane. Kini yang Jeane inginkan adalah mencari sesuatu untuk diberikan kepada Pierre dan pilihannya jatuh pada sebuah toko Wine yang terdapat di ujung jalan.

“Bonjour monsieur, hari ini saya akan bertemu dengan seseorang yang spesial. Saya ingin memberikan kekasih saya seikat bunga, namun saya bingung harus memilih.” Jeane mengawali percakapan.

“apapun.” Jawab sang floris seadanya.

“apapun?” Dengan nada kebingunan Jeane mengulangi perkataan sang folris.

“Bukan keindahan Bunga yang membuat hati seseorang berbunga-bunga. Tapi ketulusan hati yang akan selalu membuat hati orang yang kita cintai berbunga-bunga. Karena cinta yang suci tak pernah layu, tak pernah dimakan waktu. Bunga tak lebih dari sebuah keindahan yang sesaat.” Sang floris mengambil sebuah bunga melati.

“Berikan bunga ini, dan tuliskan sesuatu untuknya agar dia mengetahui isi hatimu.”
Tanpa berkata-kata Jean mengambil bunga mawar yang diberikan floris tersebut dan membayarnya. Ia keluar dari toko bunga itu dengan senyum simpul yang mengandung seribu arti.

 Waktu sudah menunjukan pukul enam tapat. Matahari masih jauh dari terbenamnya. Dari persimpangan jalan tampak kemegahan monumen Arch de triomphe. Tak jauh dari toko bunga tersebut. Jeane mendekati Monumen bersejarah itu. Monumen yang hanya ia lihat dibuku ensiklopedia kini berada di hadapannya. Tiba-tiba telefon seluler Jeane bergetar. Ia membuka telefon selulernya dengan air muka penuh keyakinan. Berharap pesan singkat itu dari Pierre. Dan ternyata pesan itu berasal dari seseorang yang sangat mencintai Jeane, yaitu Pietter. Dia merupakan kekasih Jean di masa SMA.

‘‘….Past and future blind us to the present. Burn them booth with fire.” Sesaat pikiran Jeane teringat masa-masa dimana ia masih menjalin cinta bersama Pietter. Betapa bodohnya tindakan yang telah ia lakukan sehinnga Pietter meniggalkannya. Hati Jeane seakan hancur menjadi partikel-partikel kecil yang begitu mudah tersapu angin.

Air matanya perlahan turun tak tertahankan, tak terbendung oleh apapun. Jean menaiki sebuah taxi. Tujuannya adalah menara eiffeil. Yang kini ia cari hanyalalah keajaiban cinta di kota yang penuh dengan romansa dan kasih sayang ini. Di dalam taxi, air matanya tak kunjung surut, meski alunan lagu-lagu Nirvana, The Strokes dan The vines mencoba menghiburnya melalui playlist lagu di telefon selulernya. Matahari kini berganti terang bintang. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Dua jam menuju jadwal kepulangan Jeane ke Amsterdame. Malam itu begitu ramai suasana di sekitar menara Eiffel. Pasangan tua dan muda memenuhi seisi taman. Mereka saling berpegangan tangan, berpelukan bahkan saling bercumbu. Tak ada rasa malu untuk mempertontonkan rasa cinta yang begitu membara dalam jiwa mereka. Jean tampak kebingungan. Tak tahu harus berbuat apa. Hanya Jeane yang datang seorang diri tanpa membawa pasangan. 

‘’Tuhan, dimana Pierre ? Sampaikan padanya bahwa aku merindukannya. Pertemukan aku dengannya!” Pinta Jeane dari hati yang paling dalam.

Jeane percis  berada di depan menara Eiffel. Tatapanya tertuju pada puncak menara cinta tersebut. Berandai Ia dan Pierre menaiki menara tersebut dan saling bercumbu di puncak. Diterangi gemerlap bintang malam dan diringi lagu romantis. Dan…

‘’Bonsoir madmoiselle. ‘’ seseorang memberikan sekuntum bunga kepadanya.

“Pierre…..”

Ternyata orang itu adalah Supir taxi yang ditumpangi Jeane. Ia telah mencari Jeane dari tadi. Karena bunga milik Jeane tertinggal di taxi tersebut.

Untuk ke sekian kalinya Jeane keliru. “Apa mau mu Tuhan!” Gerutu Jeane dalam hati.
‘’Madmoiselle, ini bunga milik anda. Anda lupa membawanya ketika turun dari taxi yang tadi anda tumpangi.’’

‘’Merci beaucoup monsieur. ‘’

‘’ Je vous en prie madame. Sampaikan salamku pada orang yang akan anda beri bunga ini. Et bonne chance. ‘’ Supir taksi itupun pamit dari hadapan Jeane.

Dari kejauhan supir itu melambaikan tangan kepada Jean. Seakan memberikan salam perpisahan dan juga semangat. Kini ada semangat baru dalam diri Jeane. Semua orang baru yang ia temui hari ini seakan mendukung pertemuan antara Jeane dan Pierre. Kecuali satu. Tuhan.

‘’Tuhan, hanya engkau yang tak mengerti perasaan ini. Perasaan cinta yang mendalam. Perasaan cinta yang tulus. Apa masalah diantara kita ? ‘’

‘‘ Pierre….. dimana kau ?!’’ Teriakan Jeane membuat semua perhatian di sana tertuju padanya. Urat malu Jeane seakan putus. Ia sadar akan segala perbuatannya. Tanpa pengaruh alkohol sama sekali. Tak sedikitpun ia menghiraukan orang-orang di sekitar. Jeane kini berada di puncak frustasi. Jeane tak kuasa menahan tangisnya. Ia duduk di jalanan tanpa meperdulikan orang lain yang terus memperhatikannya. Ia kini benar-benar mabuk, dalam cintanya terhadap Pierre. Jeane mengambil telefon selulernya, dan terus menghubungi Pierre. Dengan penuh harap ia menuggu kabar darinya. Pujaan hati yang telah lama ia tunggu.

Tiba-tiba telefon seluler Jeane berdering. Senyum diwajahnya kembali mekar. Ia berpikir penuh keyakinan, bahwa telefon tersebut dari Pierre. Namun, ternyata itu alarm telefon seluler Jeane yang telah diset satu jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat yang akan ia tumpangi menuju kampung halamannya, Amsterdame.

Sudah habis asa dan harapan Jeane. Segala daya dan upaya telah ia lakukan. Namun mungkin cinta Jeane bertepuk sebelah tangan. Ia kini berada di puncak menara Eiffel, berdoa penuh ketulusan. ‘’Tuhan, aku menunggu keajaiban cintamu di tempat ini, aku akan selalu menunggu.” Sambil melemparkan bunga yang diperuntukan bagi Pierre.

“Eiffel bawa aku kembali kesini bersama cintaku, suatu saat nanti.”

 Jeane pun tersenyum meniggalkan menara Eiffel, tanpa penyesalan sedikitpun. Yang ia tahu, cinta adalah perjuangan.


***
Di dalam pesawat Jeane terus berusaha melupakan Pierre. Sosok  yang selama ini ia idamkan. Yang hanya bisa ia temui dalam mimpi-mimpinya. Sungguh cinta yang sangat mendalam di relung hati Jeane.

Sungguh betapa besar pengaruh globalisasi dalam menciptakan eksistensi di dunia maya. Hal tersebut berdampak dalam perjalanan cinta Jeane. Dalam eksistensinya di dunia nyata, ia bertemu pujaan hatinya di dunia maya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan menjalin sebuah hubungan jarak jauh. Antara dunia nyata dan dunia maya.

‘’… I realize it was only just a dream.. ‘’ Lagu Nelly menemani tidurnya dalam perjalanan menuju Amsterdam.



Catatan :
v  Bienvenue : selamat datang
v  Merci beaucoup : terima kasih banyak
v  De rien : Sama-sama
v  Bonsoir : selamat malam
v  Madmoiselle : nona
v  Madame : nyonya
v  Je vous en prie : sama-sama (formal)
v  Bonne chance : semoga beruntung