Betapa besar pengaruh globalisasi
dalam menciptakan eksistensi di dunia maya. Hal tersebut berdampak dalam
perjalanan cinta Jeane. Dalam eksistensinya di dunia nyata, ia bertemu pujaan
hatinya di dunia maya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan menjalin sebuah hubungan
jarak jauh.
Perjalanan udara yang begitu
melelahkan. Hampir tiga jam Jeane membelah cakrawala, meninggalkan kota
kelahiran yang sangat ia cintai, Amsterdam. Sepanjang perjalanan pikiran dan
perasaannya tak pernah menyatu. Tak menemukan titik temu. Secangkir kopi yang menemainya membuat adrenalinnya kian meningkat, membuat
jantungnya berdebar tak menentu. Tubuhnya bergetar. Ia berharap dapat bertemu
cinta sejatinya. Cinta yang begitu nyata dalam setiap mimipi-mimpinya.
Jam Bandara Charles de Gaulle
menunjukan pukul dua siang. Jeane berjalan gontai menuju mesin penjual minuman
otomatis. Mengusir dahaga yang menggerogoti tenggorokannya sedari tadi. Kemarau
kali ini adalah kemarau terpanas yang pernah ia lalui. Matahari seakan ingin
membakar seisi Bumi hari itu. T-shirt Nirvana yang berukuran lebih besar dari
tubunya berpadu dengan celana jeans rombeng membalut kulit putih mulus dan
tubuh Jeane yang amat denok. Membuat lirikan semua orang disekkitar tertuju
padanya. Iya begitu mencolok di tengah hiruk pikuk keramaian Bandara Charles de
Gaulle.
Jeane perlahan beranjak menuju bar
yang terletak tak jauh dari pintu keluar. Ia begitu iri melihat orang-orang
yang sedang menunggu dan menyambut kedatangan orang-orang terkasih. Pelukan dan
ciuman yang ia lihat disana telah membakar rasa rindu yang telah dalam ia
pendam. Jeane berharap Pierre segera tiba untuk menjeputnya. Tiba-tiba
seseorang menyapanya dan membuyarkan lamunannya.
“Bienvenue
au bar de Charles de Gaulle. Permisi madame, apakah ada yang dapat saya bantu?’’
“Pierre
!!!” Seru Jeane yang berharap seseorang yang menepuk pundaknya adalah Pierre.
‘’Maaf, saya kira kamu adalah orang yang sedang saya tunggu." Ternyata yang itu hanya seorang pelayan
yang hendak memberikan daftar menu makanan.
‘’Saya pesan kopi, biskuit dan crepes ‘’
“Baiklah,
saya ulangi pesanan anda madame, kopi, biscuit dan crepes. Apa ada tambahan
lainnya?” Tanya pelayan
terseut untuk memastikan pesanan Jeane.
“tidak, itu saja cukup” Jawab Jeane
sambil menyalakan cerutu yang ia bawa dari Amsterdame.
“ Mohon tunggu sebentar madame,
pesanan akan segera tiba. Merci Beacoup.”
“De rien.” Jeane
mengakhiri percakapan dan pelayan itu pun meninggalkan meja Jeane.
***
Jean melihat jam
tanganya yang telah disamakan dengan waktu di Paris. Tanpa terasa jam sudah
menunjukan pukul empat. Hampir dua jam Jeane berada di Bar itu. Semua pesanan
habis dilahap olehnya. Tanpa terkecuali. Ditambah delapan cerutu yang manemani
santapannya siang itu. Bosan kini telah hinggap dalam benak Jeane. Ia terus
memandangi telefon genggamnya. Menunggu kabar dari orang yang ia idam-idamkan,
Pierre. Ia terus
berharap pada cintanya itu. Jeane meninggalkan bar itu. Kemudian ia memasang
earphone. Lagu The Rolling Stones menemani langkahnya yang tak memiliki tujuan
pasti.
Dengan bulat
hati, Jeane meniggalkan Bandara Charles de Gaulle. Langkahnya tertuju pada
place de la concorde. Sebuah alun-alun terluas yang ada di Kota Paris. Ia
mencari bangku untuk duduk sejenak. Sambil mengagumi keindahan patung dan
gemercik air mancur yang ada di taman itu. Perlahan ia berbaring di bangku
taman itu. Memandang langit luas, seperti cintanya yang tak terbatas kepada
Pierre. Begitu hening
suasana di alun-alun itu. Meredakan kekesalan hatinya untuk sementara waktu. Tiba-tiba
seorang anak kecil datang menghampirinya menyanyikan lagu soul man, diiringi
permainan gitar yang memukai. Jeane pun melepaskan earphone dan lebih memilih
menikmati konser musisi jalanan itu. Terlebih lagu yang dibawakannya merupakan
lagu bahasa Perancis yang pertama kali ia hafal. Ketika musisi jalanan itu
menyudahi konsernya, Jeane lekas memberinya sebungkus cerutu Belanda. Kemudian
ia meniggalkan taman tersebut.
Ia terus berjalan menyusuri jalanan di kota
Paris. Langkahnya begitu penuh dengan keyakinan. Tak ada sama sekali rasa takut
dalam setiap langkahnya, walau ini merupakan kali pertama Jeane berada di
Paris. Ketidak tahuan Jeane membawanya ke sebuah pusat pertokoan
di Paris, Champe Elysee. Sepanjang
jalan terdapat butik dengan merek ternama di dunia. Bar dan Restoran begitu
penuh terisi pasangan yang sedang di mabuk cinta. Rasa iri kembali menghinggapi
dirinya. Hanya Pierre yang mampu mengobati iri di hati Jeane. Kini yang Jeane
inginkan adalah mencari sesuatu untuk diberikan kepada Pierre dan pilihannya
jatuh pada sebuah toko Wine yang terdapat di ujung jalan.
“Bonjour monsieur, hari ini saya akan
bertemu dengan seseorang yang spesial. Saya ingin memberikan kekasih saya seikat
bunga, namun saya bingung harus memilih.” Jeane mengawali percakapan.
“apapun.” Jawab sang floris seadanya.
“apapun?” Dengan nada kebingunan
Jeane mengulangi perkataan sang folris.
“Bukan keindahan Bunga yang membuat
hati seseorang berbunga-bunga. Tapi ketulusan hati yang akan selalu membuat
hati orang yang kita cintai berbunga-bunga. Karena cinta yang suci tak pernah
layu, tak pernah dimakan waktu. Bunga tak lebih dari sebuah keindahan yang
sesaat.” Sang floris mengambil sebuah bunga melati.
“Berikan bunga ini, dan tuliskan
sesuatu untuknya agar dia mengetahui isi hatimu.”
Tanpa berkata-kata Jean mengambil bunga
mawar yang diberikan floris tersebut dan membayarnya. Ia keluar dari toko bunga
itu dengan senyum simpul yang mengandung seribu arti.
Waktu sudah menunjukan pukul enam tapat. Matahari
masih jauh dari terbenamnya. Dari persimpangan jalan tampak kemegahan monumen
Arch de triomphe. Tak jauh dari toko bunga tersebut. Jeane mendekati Monumen
bersejarah itu. Monumen yang hanya ia lihat dibuku ensiklopedia kini berada di
hadapannya. Tiba-tiba telefon seluler Jeane bergetar. Ia membuka telefon
selulernya dengan air muka penuh keyakinan. Berharap pesan singkat itu dari
Pierre. Dan ternyata pesan itu berasal dari seseorang yang sangat mencintai
Jeane, yaitu Pietter. Dia merupakan kekasih Jean di masa SMA.
‘‘….Past and future blind us to the
present. Burn them booth with fire.” Sesaat pikiran Jeane teringat masa-masa
dimana ia masih menjalin cinta bersama Pietter. Betapa bodohnya tindakan yang
telah ia lakukan sehinnga Pietter meniggalkannya. Hati Jeane seakan hancur
menjadi partikel-partikel kecil yang begitu mudah tersapu angin.
Air matanya perlahan turun tak
tertahankan, tak terbendung oleh apapun. Jean menaiki sebuah taxi. Tujuannya
adalah menara eiffeil. Yang kini ia cari hanyalalah keajaiban cinta di kota
yang penuh dengan romansa dan kasih sayang ini. Di dalam taxi, air matanya tak
kunjung surut, meski alunan lagu-lagu Nirvana, The Strokes dan The vines
mencoba menghiburnya melalui playlist lagu di telefon selulernya. Matahari kini
berganti terang bintang. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Dua jam
menuju jadwal kepulangan Jeane ke Amsterdame. Malam itu begitu
ramai suasana di sekitar menara Eiffel. Pasangan tua dan muda memenuhi seisi
taman. Mereka saling berpegangan tangan, berpelukan bahkan saling bercumbu. Tak
ada rasa malu untuk mempertontonkan rasa cinta yang begitu membara dalam jiwa
mereka. Jean tampak kebingungan. Tak tahu harus berbuat apa. Hanya Jeane yang
datang seorang diri tanpa membawa pasangan.
‘’Tuhan, dimana
Pierre ? Sampaikan padanya bahwa aku merindukannya. Pertemukan aku
dengannya!” Pinta Jeane dari hati yang paling dalam.
Jeane percis berada di depan menara Eiffel. Tatapanya tertuju
pada puncak menara cinta tersebut. Berandai Ia dan Pierre menaiki menara
tersebut dan saling bercumbu di puncak. Diterangi gemerlap bintang malam dan
diringi lagu romantis. Dan…
‘’Bonsoir
madmoiselle. ‘’
seseorang memberikan sekuntum bunga kepadanya.
“Pierre…..”
Ternyata orang
itu adalah Supir taxi yang ditumpangi Jeane. Ia telah mencari Jeane dari tadi.
Karena bunga milik Jeane tertinggal di taxi tersebut.
Untuk ke sekian
kalinya Jeane keliru. “Apa mau mu Tuhan!” Gerutu Jeane dalam hati.
‘’Madmoiselle,
ini bunga milik anda. Anda lupa membawanya ketika turun dari taxi yang tadi
anda tumpangi.’’
‘’Merci beaucoup
monsieur. ‘’
‘’ Je vous en
prie madame. Sampaikan salamku pada orang yang akan anda beri bunga ini. Et
bonne chance. ‘’ Supir taksi itupun pamit dari hadapan Jeane.
Dari kejauhan
supir itu melambaikan tangan kepada Jean. Seakan memberikan salam perpisahan
dan juga semangat. Kini ada semangat baru dalam diri Jeane. Semua orang baru
yang ia temui hari ini seakan mendukung pertemuan antara Jeane dan Pierre.
Kecuali satu. Tuhan.
‘’Tuhan, hanya
engkau yang tak mengerti perasaan ini. Perasaan cinta yang mendalam. Perasaan
cinta yang tulus. Apa masalah diantara kita ? ‘’
‘‘ Pierre…..
dimana kau ?!’’ Teriakan Jeane membuat semua perhatian di sana tertuju
padanya. Urat malu Jeane seakan putus. Ia sadar akan segala perbuatannya. Tanpa
pengaruh alkohol sama sekali. Tak sedikitpun ia menghiraukan orang-orang di
sekitar. Jeane kini berada di puncak frustasi. Jeane tak kuasa menahan
tangisnya. Ia duduk di jalanan tanpa meperdulikan orang lain yang terus memperhatikannya.
Ia kini benar-benar mabuk, dalam cintanya terhadap Pierre. Jeane mengambil
telefon selulernya, dan terus menghubungi Pierre. Dengan penuh harap ia menuggu
kabar darinya. Pujaan hati yang telah lama ia tunggu.
Tiba-tiba
telefon seluler Jeane berdering. Senyum diwajahnya kembali mekar. Ia berpikir
penuh keyakinan, bahwa telefon tersebut dari Pierre. Namun, ternyata itu alarm
telefon seluler Jeane yang telah diset satu jam sebelum jadwal keberangkatan
pesawat yang akan ia tumpangi menuju kampung halamannya, Amsterdame.
Sudah habis asa
dan harapan Jeane. Segala
daya dan upaya telah ia lakukan. Namun mungkin cinta Jeane bertepuk sebelah
tangan. Ia kini berada di puncak menara Eiffel, berdoa penuh ketulusan.
‘’Tuhan, aku menunggu keajaiban cintamu di tempat ini, aku akan selalu
menunggu.” Sambil melemparkan bunga yang diperuntukan bagi Pierre.
“Eiffel bawa aku kembali kesini
bersama cintaku, suatu saat nanti.”
Jeane pun tersenyum meniggalkan menara Eiffel,
tanpa penyesalan sedikitpun. Yang ia tahu, cinta adalah perjuangan.
***
Di dalam pesawat
Jeane terus berusaha melupakan Pierre. Sosok yang selama ini ia idamkan. Yang hanya bisa ia
temui dalam mimpi-mimpinya. Sungguh cinta yang sangat mendalam di relung hati
Jeane.
Sungguh betapa
besar pengaruh globalisasi dalam menciptakan eksistensi di dunia maya. Hal
tersebut berdampak dalam perjalanan cinta Jeane. Dalam eksistensinya di dunia
nyata, ia bertemu pujaan hatinya di dunia maya. Ia tak pernah menyangka bahwa
ia akan menjalin sebuah hubungan jarak jauh. Antara dunia nyata dan dunia maya.
‘’… I realize it was only just a
dream.. ‘’ Lagu Nelly menemani tidurnya dalam perjalanan menuju
Amsterdam.
Catatan :
v
Bienvenue : selamat datang
v
Merci beaucoup : terima kasih
banyak
v
De rien : Sama-sama
v
Bonsoir : selamat malam
v
Madmoiselle : nona
v
Madame : nyonya
v
Je vous en prie : sama-sama
(formal)
v
Bonne chance : semoga beruntung