Pertemuan kita begitu mesra
Tugas kita hanya menjalani
Berjalan di atas tanah yang kita pijak lalu
Tenggelam dalam larut pasang ombak laut
Atau musim-musim yang datang dan pergi
Lihatlah waktu berlalu memberi sebuah pesan
Bersama rasa yang sering kali Tuhan permainkan
Kita telah banyak kehilangan
Sementara tak ada yang pasti dalam cerita ini
Hujan berganti pelangi lalu malam datang begitu sunyi
Kita tak pernah memiliki
Tugas kita hanya memahami
Awal mula yang begitu samar tidak jelas
Kini berubah rindu
Dan menunggu menjadi debu.
Tatap jelas senyumku,
Melawan pahit dunia dan memintamu
Berjalan menentang nasib
Dan bertahan dalam sebuah mimpi
Jujur tanpa bersandiwara
Bersamaku sekali lagi.
Sekali lagi.
Jika memang rumah ini hanya persinggahan
Biarkan kosong melompong sebab
Sepi mengisi segala sudut
Namun kan kupasang sebuah fragmen
Dirimu dan diriku pada masa lalu.
Sebagai sebuah pengingat tanda
Kebahagian begitu nyata dan ada.
malam ini begitu teduh walau tanpa bintang. Tuhan penyayang segala umatnya. Memberi segala rasa tak terjamah. Sujud dan syukur kehadiranmu takan berakhir sepanjang pagi dan malam
Sayang, Jalan kita masih panjang
Jangan terkurung pada ketiadaan
Kau bilang: Beri sebuah nilai.
Agar kita tak hampa cita.
Lalu cinta?
Tak perlu kau merangkai kata.
Atau kita paksa semesta
Biar pasrah menanti Tuhan bercerita
Ada masa dimana tiba saatnya
Waktu beranjak. Dan langkah mengalah.
Ya, langkah mengalah.
yang bersinar kelak kan pudar
yang ada menjadi tiada
dan yang datang lalu pergi.
Yang menemani meratap ditinggalkan
Namun Aku akan tetap bertahan.
Menunggu. Meski disayat sepi
Rapuh 'kan sembuh.
hilang 'kan dikenang
Sayang, tetaplah disini bersamaku hanya jika kau mau.
Kita susuri seisi bumi dan mencari jalan setapak
Menuju rumah yang hakiki.
Aku tidak akan memaksamu bertahan
*Hanya saja izinkan aku menitipkan dirimu : Kepada Allah
*Agamamu, Amanatmu dan ujung amalanmu
Agar kita berjumpa di waktu yang indah
Ayat suci berkumandang…..
Satria Tegar Gumilar, Oktober '16