Harapan dan absurditas menjelma dinding
Yang tembus pandang di ruang dingin dan beku.
Rasa cinta itu diantara nalar dan sadar
meninak bobokan hati yang tiada
Biar kuputuskan malam ini ;
Kita akan bertemu kembali
Tetaplah bertahan seperti pohon
yang diterpa angin malam
: senyummu mengakar dalam ingatanku
memberi kehidupan abadi
hingga jiwa ini begitu segar menerjang bumi
karena hatimu terbuat dari benih-benih kesabaran
yang ku tanam, dan kelak kan ku tuai.
Entah di waktu yang mana,
STG, September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar